<p>&nbsp;</p><body>p</body>

THE STORY OF US

Saturday, March 07, 2009


it's been quite long time I forgot to update this blog. Somehow I even forgot that I have this blog :)
A lot of things happen.
Some cheerful and joyous, while other sad and full of tears.

In March 2005, I left my old rig in Balikpapan and move to Singapore to join my new company. My assignment was in Brunei (mostly) and some times in Malaysia
In June 2007, I quit the job and back to Jakarta to work for an Australia based mining contractor.

May 2008 my third kid and first daughter born. Her name is Fella Triessandra Medyanti

2008 also become full of tears when my beloved Mum passed away.
It was great loss for me since I live with her for almost all of my time.

The little house on the praire --- my gramapuri house --- is no longer on the 'praire' since they build next stage of housing complex.
I kind of hate that and -- due to my new job posting in Jakarta -- I then move to Graha Kalimas, more greener neighborhood and definitely nearer to Toll Gate.

I went back to campuss and take my MBA class in 2008.

I think that's all for now guys
Thanks for hopping by

cheers

Fahrie

fahrie at 6:10 PM
_________________________________________________________________________________________ Sunday, August 27, 2006
Farrell n Friends
MERDEKA!!!!!



fahrie at 11:08 AM
_________________________________________________________________________________________
Brian di Agustusan


fahrie at 10:55 AM
_________________________________________________________________________________________ Monday, October 18, 2004

fahrie at 5:22 PM
_________________________________________________________________________________________ Wednesday, September 15, 2004
"JOYRIDE!"


Blyan lagi belajal nyetil nih......
Ental kalo udah bisa mo kelja di Mayasali Bakti
Bial cepet dapet duit untuk beli Honda Shadow buat Papa
Kan Papa pengen banget tuh punya Honda Shadow
Tenang aja deh, Pa
Pokoknya ental Blyan beliin

Papa maunya yang belapa cc?
yang 600 cc aja?
oke deh, Papa
Yang sabal ya nunggunya







fahrie at 4:59 PM
_________________________________________________________________________________________ Wednesday, September 01, 2004
TENTANG OPA
Sebuah Obituari



Kali ini cerita tentang Opa.

Opa baru saja pergi menghadap Ilahi hari Jumat 20 Agustus kemaren.
Lahir di kampung kecil di Cikoang, Jeneponto sekitar 3 jam dari Makassar, Opa dulu sudah jadi yatim piatu sejak masa kanak-kanaknya.

Untuk bisa tetap melanjutkan sekolahnya Opa harus berpindah-pindah menumpang dirumah keluarga yang mau berbaik hati merawatnya.
Kehidupannya berat, untuk bisa sekolah Opa harus berenang menyeberangi sungai setiap hari dengan satu tangan terangkat memegang baju supaya tidak basah. setelah itu dilanjut lagi dengan jalan kaki berkilo meter tanpa alas kaki.
Sepatu pertamanya - cerita Opa dulu - adalah sepasang sepatu bot bekas kakaknya yang jadi tentara. Kegedean pastinya, tapi lumayan daripada harus menapak tanah.
Meski berasal dari kampung semangat Opa untuk bisa sekolah tak pernah padam.

Setamat PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama) Opa mengajar di SMP di kampungnya sambil tetap melanjutkan sekolahnya.
Saat yang sama Opa yang aktif di Nahdhatul Ulama saat itu terpilih menjadi ketua DPRD Jeneponto. Tapi jangan dibandingin dengan anggota DPRD sekarang yang bergelimang harta. Saat itu menjadi anggota dewan semata hanya karena idealisme.

Opa meyelesaikan S1-nya dari Fakultas SosPol Universitas Hasanuddin, Makassar, fakultas yang mempertemukannya dengan Oma. Mereka teman kuliah meski Opa lebih senior waktu itu.

Ketika Universitas Tadulako pertama kali dibuka di Palu, temen kuliahnya yang menjadi Rektor disana mengajaknya pindah ke Palu. Opa ikut kesana dan terus membaktikan dirinya mengajar di FISIPOL UNTAD hingga akhir hayatnya. Meraih gelar Master dari FISIPOL UI, kemudian sekolah lagi di Fakultas Pasca Sarjana UNHAS, Opa adalah sosok yang tak pernah berhenti belajar.

Walaupun pernah menjabat sebagai Dekan FISIPOL UNTAD, terus jadi Pembantu Rektor I Untad, Opa adalah pribadi yang sederhana. Hidupnya lurus dan bersahaja. Seorang rekannya yang mampir kerumahnya dikompleks dosen Tondo sampai tak percaya kalau di dalam rumah sederhana itu tinggal seorang guru besar yang pernah memegang sekian banyak jabatan penting.

Tapi itulah Opa.
Buat anak-anaknya Opa selalu mendorong untuk belajar dan terus belajar.
"Hanya sekolah yang bisa mengubah nasib kita", tuturnya selalu.

5 anaknya: Yang tertua tante Tati, Magister dari Universitas negeri Makassar; Om Hasan meraih Magister Ekonomi dari UNHAS; Tante Nuna saat ini kembali sekolah sebagai kandidat Doktor di Universitas Padjadjaran Bandung; Om Subhan, Geologist dari UNHAS dan yang bungsu Papa, bekerja sebagai dokter di RS Pertamina Balikpapan.

"Saya senang kalau lihat hidup kalian berkecukupan, tapi saya akan lebih bangga kalau melihat kalian sukses dipendidikan"

Kini Opa yang baik itu telah tiada, mudah-mudahan semangat dan kelurusan hidupnya bisa menjadi contoh buat kita semua.
Istirahat yang tenang ya, Opa


fahrie at 2:54 PM
_________________________________________________________________________________________ Saturday, August 21, 2004
OPA DIPANGGIL TUHAN

Jam 3 dini hari Mama dapet interlokal dari Makassar. Isinya berita duka! Opa meninggal! Seisi rumah langsung nangis, dan sibuk nelepon sana sini. Mana Papa pas ditengah laut lagi.

Jam 11 Oma, Mama, Farrel dan sikecil Bryan terbang ke Makassar. Papa sendiri sampai saat itu masih sibuk nyari helikopter untuk pulang dari rig ke Balikpapan.
Usaha terbang secepatnya ke Makassar ternyata baru berhasil jam 1 siang. Alhasil jam 8 malam baru nyampe di Jeneponto, kampung Opa yang jaraknya sekitar 3 jam perjalanan dari Makassar.

Hanya seonggok tumpukan tanah berpasir dengan nisan bertuliskan nama Opa yang kita dapati.

Papa sendiri baru besoknya datang ke Jeneponto karena usaha nyari chopper gagal dan akhirnya naek kapal cepat dari rig. Padahal jadwal pesawat dari Balikpapan ke Makassar paling akhir jam 3 sore. Gak keburu deh!

Bryan gak sempet liat Opa. Dulu waktu Mama lagi hamil gede saat terakhir kita ke Palu. Hanya Farrell yang masih ingat Opa. Tapi kayaknya dia belum ngerti dipanggil Tuhan itu apa artinya. Waktu dijelasin kalo itu artinya Farrell gak akan pernah liat Opa lagi, mata polosnya hanya menerawang menatap kubur Opa.

Selamat Jalan, Opa
Maafin kita yang bahkan belum lagi membalas segala budi baik Opa.

fahrie at 2:28 PM
_________________________________________________________________________________________ Monday, May 10, 2004
MBAK EKA PERGI, MBAK IIS DATANG

Mbak Eka pamit pulang kampung dari kemaren buat nengok orang tuanya.
Sebenarnya Mama berat hati lho buat ngelepasin Mbak Eka pergi, abis Mbak Ekanya baek banget sama Farrell.
Mulai Farrell bangun tidur sampe tidur lagi dia yang ngurusin.
Farrel juga udah dekat sama Mbak Eka.
Tapi mo bilang apa kalo mbak Ekanya mau pergi.

Tapi untung mbak Eka janji mo nyariin gantinya.
Dan ternyata itu gak lama. Sekitar seminggu Mbak eka dateng dengan Mbak Iis yang masih sodaranya. Syukurlah.
Apa lagi Mbak Iis pun ternyata juga gak kalah baiknya.
Selamat datang ya, Mbak Iis
Yang betah dirumah ya

fahrie at 11:49 PM
_________________________________________________________________________________________

Cerita Lain February 2004 - March 2004 - May 2004 - August 2004 - September 2004 - October 2004 - August 2006 - March 2009 -